5 Kebiasaan Buruk Ayah & Ibu

Siapa bilang jadi orangtua tak pernah bersalah dalam mendidik dan merawat anak? Sebagai Ayah dan Ibu, Anda berdua tentu pernah secara tak sengaja memperlihatkan kebiasaan buruk di depan Si Kecil, kan?

Setiap orangtua tentu selalu menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Apakah dengan membuat Si Kecil tetap sibuk beraktivitas, atau memberi kebebasan memilih kepadanya.

Yang jelas, orangtua selalu merasa, membahagiakan anak adalah tugas utama merek. Nah, berikut ini 5 kesalahan yang sering dilakukan orangtua dan cara mengatasinya!

1. Terlalu Banyak Negosiasi
Banyak orangtua merasa sudah bersikap adil dan demokratis ketika bertanya kepada anak-anaknya tentang segala hal. Mulai dari soal pakaian yang ingin dikenakan, sampai soal menu untuk makan malam. Ini merupakan kebiasaan, terutama bagi orangtua yang bekerja, karena merasa bersalah karena tak ada di rumah.
Tetapi yang mengejutkan para ibu dan ayah, anak-anak sebenarnya ingin diberitahu mengenai apa yang harus dilakukan, dan justru jadi takut berpendapat bila terus ditanyai. Jika orangtua harus mengambil keputusan, banyak dari mereka melakukan kesalahan dengan mencoba memberi banyak alasan, sementara anak-anak akan memanfaatkan kesempatan ini untuk menguasai orangtuanya.
Begitu sudah menetapkan keputusan, beri penjelasan singkat. Lakukan kontak mata dan sampaikan pernyataan dengan jelas, di dalam 30 kata atau kurang, mengapa aturannya harus begitu. Kesalahan lainnya adalah pada saat orangtua menyampaikan permintaan yang terdengar seperti pilihan.
Jika ingin anak mandi tetapi ucapan terdengar seperti pertanyaan, anak akan memanfaatkannya dengan mengatakan “tidak”. Kita tidak perlu merasa bersalah jika harus menyuruh anak mandi, karena itu sudah menjadi bagian dari tugas sebagai orangtua.
2. Tak Pernah Membiarkan Anak Merasa Bosan
Seberapa sering, sih, Si Kecil merengek, “Saya bosan, saya bosan!” dan Anda merasa seolah-oleh ini salah Anda? Banyak para ibu dan ayah merasa gagal jika tidak bisa menstimulasi anak-anaknya.
Zaman sekarang, banyak orangtua sering merasakan kebutuhan untuk mengelola kehidupan anak-anaknya di setiap hal. Dan kini, anak-anak lebih banyak berada di dalam rumah daripada bermain di luar, dan orangtua merasa bertanggung jawab untuk membuat Si Kecil makin sibuk.
Padahal, anak-anak perlu merasa sedikit bosan. Dengan begitu, akan mengajarkan kepada mereka untuk mampu berpikir kreatif dengan waktu yang dimiliki, serta belajar bahwa kehidupan tak selalu menyenangkan.
Anda pun perlu mengingat, “Saya bosan!” kadang-kadang bisa berarti lain. Sering kali seorang remaja yang mengatakan bosan dan menggunakan kata-kata ini sebagai senjata untuk mengganggu orangtuanya, atau sebagai cara untuk menghindar dan pergi dari rumah.
3. Membelikan Segala Yang Anak Minta
Anak sering mengadu kepada orangtuanya dengan mengatakan, dirinya adalah satu-satunya anak di dalam kelas yang tak punya sepatu merek tertentu atau permainan komputer.
Banyak orangtua lalu membanjiri anak-anaknya dengan hadiah, dan membuat anak jadi tak menghargai uang. Ini sangat berbahaya bagi para orangtua bekerja yang menggunakan hadiah sebagai pengganti dari ketidakhadirannya.
Akibatnya, anak-anak akan memanfaatkan rasa bersalah orangtuanya. Jika anak-anak sangat menginginkan sesuatu, biasakan mereka menabung dari uang jajannya dulu. Inti pelajaran bagi anak, jika mendapatkan sesuatu dengan susah payah, mereka akan lebih menghargainya.
4. Terlalu Memaksakan Kehendak
Orangtua selalu berkata, keberhasilan yang dicapai sang anak berasal dari diri mereka. Akibatnya, orangtua merasa sudah melakukan yang terbaik bagi anak-anaknya, padahal ternyata mereka melakukan hal yang membahayakan bagi anak-anak.
Banyak orangtua yang merasa keberhasilan anaknya merupakan refleksi dari dirinya. Anda harus bertanya pada diri sendiri, “Kebutuhan siapa yang paling dipentingkan? Anda atau anak?
Jika dukungan berubah menjadi tekanan, anak-anak justru bisa menjadi gelisah dan prestasinya mulai mundur. Mereka juga dapat mengalami gejala stres, seperti sakit perut yang tak jelas, sembelit, tak dapat tidur, gangguan tidur dan mimpi buruk.
Pada anak-anak yang sensitif, harapan orangtua yang terlalu tinggi agar anak-anak menjadi seperti orang tuanya juga dapat menurunkan rasa percaya diri mereka. Bahkan, walaupun anak-anak melakukannya dengan baik untuk jangka waktu yang pendek, mereka mungkin akan memberontak dan melakukan hal yang berlawanan di usia remaja.
Oleh karena itu, biarkan anak bermain dengan bebas, tanpa tekanan apapun agar berhasil baik. Berikan kesempatan dan biarkan mereka berkembang sesuai usianya.
5. Tak Pernah Bilang Kata Tidak
Banyak orangtua terperangkap dengan berpikir, mengatakan ‘ya’ kepada setiap permintaan anak-anak akan membuat mereka bahagia. Masalah juga kerap terjadi kepada orangtua yang dibesarkan di dalam keluarga yang sangat keras, dan ingin menerapkan hal berbeda kepada anak-anaknya.
Jika tak dapat mengatakan ‘tidak’, Anda tidak melakukan tugas sebagai orangtua dengan benar. Begitu Anda mengatakan ‘tidak’, hal yang paling penting adalah konsisten dan tidak mengubah pikiran. Sebab bila tidak begitu, anak-anak akan memanfaatkan kelemahan Anda.

%d blogger menyukai ini: