Partisipasi Politik Perempuan Belum Optimal

Oleh Frans Obon

ENDE — Partisipasi politik perempuan masih belum optimal setidaknya dari hasil pemilu legislatif 9 April lalu. Hampir di setiap daerah, calon anggota legislatif perempuan yang lolos ke lembaga legislatif mengalami penurunan dibandingkan dengan Pemilu 2004.

Maria Matildis Banda, Lusia Adinda Lebu Raya, dan Frans Obon

Maria Matildis Banda, Lusia Adinda Lebu Raya, dan Frans Obon

Maria Matildis Banda dalam diskusi panel yang digelar Dharma Wanita Persatuan Unit Agama Provinsi Nusa Tenggara Timur di Kantor Departemen Agama Kabupaten Ende, Rabu (24/6) mengatakan, penurunan suara tersebut selain karena keputusan Mahkamah Konstitusi yang menentukan bahwa caleg yang lolos berdasarkan suara terbanyak, tetapi juga disebabkan oleh pilihan politik perempuan sendiri yang tidak mendukung keberadaan perempuan di legislatif.

Pembicara lain dalam diskusi panel ini, yang dihadiri utusan dari Departemen Agama sedaratan Flores-Lembata dan Sumba serta Timor adalah Ketua Pembina Dharma Wanita Provinsi NTT, Lusia Adinda Lebu Raya, dengan moderator Frans Obon. Lusia Adinda, istri Gubernur Frans Lebu Raya ini membawakan makalah berjudul: ”Peranan Wanita dalam Tatanan Global”. Tema diskusi, ”Dharma Wanita: Wadah Pengembangan Jati Diri di Tengah Tata Dunia”.

Dalam makalah berjudul ”Partisipasi Perempuan dalam Ruang Politik: Catatan Reflektif Hasil Pemilu 2009” Maria Matildis Banda menegaskan, penghapusan kuota 30 persen bagi perempuan yang diganti dengan menggunakan sistem suara terbanyak telah melanggengkan budaya patriarkis. Padahal beberapa negara di dunia mendukung gagasan pemberian kuota kepada perempuan untuk menjamin keterwakilan perempuan di lembaga legislatif.

Dia menyebutkan di Italia perempuan harus memperoleh 50 persen dari surat suara representasi proporsional (RP), di Argentia 30 persen, dan Brasil 20 persen. ”Kuota-kuota tersebut biasanya dirasakan sebagai mekanisme transisional untuk menempatkan dasar bagi penerimaan yang lebih luas atas keterwakilan perempuan,” katanya.

Dari hasil pemilu legislatif 2009, katanya, rata-rata perolehan kursi legislatif 2009 untuk perempuandi kabupaten/kota di Provinsi NTT adalah 48 orang dari 605 kursi yang tersedia atau 7,88 persen. Laki-laki mendapat 557 kursi (92,22 persen). Perolehan kursi untuk perempuan terbanyak ada di Belu yakni 7 kursi untuk perempuan dari 35 kursi (20 persen). Sementara Kabupaten Manggarai Timur dengan jumlah perempuan dalam daftar calon tetap(DCT) 399 orang (50,89 persen), calon perempuan yang lolos hanya satu orang. Sedangkan kabupaten yang tidak berhasil meloloskan satupun caleg perempuan adalah Kabupaten Nagekeo (121 atau 30,71 persen caleg perempuan dalam DCT), Manggarai Barat (164 atau 29,23 persen perempuan dalam DCT), Sumba Barat (121 atau 31,93 persen DCT perempuan) dan Sumba Tengah (71 atau 27,82 persen DCT perempuan).

Menurut Lusia Adinda Lebu Raya, keterwakilan yang rendah di lembaga legislatif ini tidak saja disebabkan oleh rekrumen di partai politik melainkan disebabkan oleh minimnya usaha di kalangan perempuan untuk membangun kapasitas dirinya dan kurangnya keterlibatan yang intens dengan masyarakat pemilihnya.
Dia bilang banyak caleg perempuan datang ke desa-desa atau ke masyarakat pemilih menjelang pemilihan. Baliho dipasang di desa-desa dengan beragam gaya, tetapi kurang membangun jembatan komunikasi dengan masyarakat jauh-jauh hari sebelumnya.

Dia mendorong peserta pertemuan dari kabupaten-kabupaten tersebut untuk mengembangkan kapasitas diri, membangun jaringan kerja sama, dan menolong para perempuan lainnya untuk terlibat aktif dalam organisasi-organisasi atau kegiatan publik lainnya yang dapat membantu meningkatkan kapasitas perempuan.

Diskusi panel ini hanyalah salah satu kegiatan dari tiga hari kegiatan Dharma Wanita Unit Kantor Wilayah Agama Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang dipusatkan di Ende.

Ketua Panitia Yohana Ngasu Nganggo dalam laporan panitia menyebutkan, pertemuan tiga hari ini mau meningkatkan partisipasi anggota Dharma Wanita unit Agama, mempererat tali persahabatan, meningkatkan wawasan, semangat kebersamaan dan sharing pengalaman. Kegiatan tiga hari ini juga diisi dengan kegiatan olahraga bola voli, senam ayo bangkit, dan malam persaudaraan dan pentas seni budaya. Hari terakhir rombongan mengunjungi objek wisata danau Kelimutu.*

Edisi, 25 Juni 2009 | pp 1,15

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: