Yasukel Bangun Kemitraan Wujudkan Semangat Awal

Oleh Frans Obon

ENDE — PERTAMA kalinya Yayasan Persekolahan Umat Katolik Ende Lio (Yasukel) menggelar pertemuan dengan para pengawas sekolah. Pertemuan yang berlangsung di aula Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Agung di Jln Durian, Sabtu (14/7) ini dimaksudkan untuk membangun kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan. Tema pertemuan “Membangun Kemitraan demi Peningkatan Mutu Pendidikan di Kabupaten Ende”.

Sekretaris Yasukel Piet Puli mengatakan, sejarah panjang pengelolaan sekolah-sekolah Katolik di Flores menunjukkan bahwa semangat kebersamaan orang Flores bisa menghasilkan sesuatu yang bisa dibanggakan. “Yasukel mau membangun sebuah kemitraan yang efektif dan efisien sehingga kita semua bisa memuaskan mereka yang kita layani,” katanya.

Pola kemitraan yang dibangun ini, katanya, mengandaikan prinsip dasar bahwa kepemimpinan yang efektif dan efisien akan berhasil bila orang-orang yang terlibat di dalam proses tersebut dianggap sebagai sahabat, rekan kerja.

“Sejak awal kemitraan dengan sikap dasar kebersamaan bukan barang baru bagi sekolah-sekolah Katolik di Flores sejak awalnya. Para pendiri selalu mengambil sikap membangun dalam kebersamaan. Semangat ini tetap dipegang oleh Vedapura dan Yasukel sampai sekarang,” ujarnya.

Thobias Tonda, Kadis PPO Frans Hapri, dan Romo Herman Embuiru Wetu Pr

Thobias Tonda, Kadis PPO Frans Hapri, dan Romo Herman Embuiru Wetu Pr

Yasukel mengelola 12 taman kanak-kanak, 152 sekolah dasar, 7 sekolah menengah pertama, dan satu sekolah menengah kejuruan. Tantangan sekolah Katolik ke depan adalah mendongkrak mutu pendidikan. Pada tahun akademik 2007/2008 dari 312 SD/MI di Kabupaten Ende, ada 6 SDK yang masuk dalam sepuluh besar. Ada dua SDK masuk dalam sepuluh kecil atau urutan buncit dan ada 8 SDK masuk dalam 20 kecil (dari 312 sekolah) dan 99 SDK dari 152 SDK atau 65,13 persen rata-rata 6,0.

Ketua Yasukel Rom o Herman Embuiru Wetu Pr mengemukakan religiositas pada sekolah-sekolah Katolik agar para pemangku kepentingan memahami karakteristik sekolah-sekolah di bawah Yasukel. Dia menegaskan, perlu keterlibatan banyak pihak dalam mendidik seorang anak. Karena membentuk kepribadian seorang anak membutuhkan waktu dan biaya.

“Salah didik, salah asuh, salah pendampingan akan mengakibatkan salah terapan, salah kaprah, salah tingkah yang berkelanjutan pada salah tindak, alah arah dan akhirnya konyol,” katanya.

Tanggung jawab lembaga pendidikan Katolik dan “semua kita” adalah “membangun manusia nyang bermartabat sebagai citra Allah, Sang Pencipta”.

Lembaga-lembaga pendidikan kita, katanya, menghadapi masalah menurunnya mutu pendidikan, berkurangnya rasa religiositas, keagamaan dan rasa kebangsaan, komitmen yayasan belum optimal, lemahnya sumber daya pendidikan, minimnya kader yang berkualitas, dan lemahnya jejaring internal dan eksternal.

“Banyak yang telah kita lakukan dan masih banyak yang kita bisa buat. Intinya adalah mengubah habitus lama dengan habitus baru,” katanya.

Dia mengatakan, dalam mendidik generasi muda perlu akar dan sayap. Akar tidak lain membekali mereka dengan nlai agar mereka tegak dan tangguh menghadapi hujan topan kehidupan. Namun pendidikan perlu pula mengembangkan dimensi kemerdekaan. “Tapi perlu diajarkan bahwa kemerdekaan tanpa batas adalah bukan kemerdekaan sejati. Itu kebebasan yang menjurus kepada penghancuran diri dan masyarakat”.

Dia mengajak para guru dan pengawas membekali orang muda dengan nilai dan religiositas “agar mereka mampu berdiri tegak dan tangguh menghadapi topan kehidupan”. Pendidikan religiositas adalah bagian integral dari pendidikan dan pembentukan diri, pilar utama, tiang unggulan, dan tonggak yang menentukan kepribadian manusia”.

Ada empat bentuk kerja sama yang dibangun dalam pertemuan yang dimoderatori Thobias Tonda ini. Pertama, penguatan kemitraan antara yayasan dan pengawas; kedua promosi dan mutasi guru dan kepala sekolah di lingkup Yasukel diatur secara bersama-sama antara Dinas PPO dan Yayasan; ketiga, memfasilitasi kegiatan pengawas dalam membangun kapasitas guru dan kepala sekolah; dan pelayanan kesejahteraan bagi guru dan kepala sekolah.

Kepala Dinas PPO Ende Fransiskus Hapri memberikan masukan pada pertemuan ini. Dia bicara mengenai kebijakan pemerintah untuk meningkat mutu tamatan, memperbaiki kerja sama antara pemangku kepentingan dalam bidang pendidikan, dan mengkoordinasi semua kepentingan dalam bidang pendidikan. Semua kebijakan ini akan bermuara pada Ende yang cerdas sebagaimana akan tertuang dalam Renstra Ende Cerdas.

Edisi, 9 Juli 2009 | 8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: